Slow Travel di Lombok: Seharian Menikmati Alam dan Kehidupan Lokal Tetebatu
Ada kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh atau itinerary yang padat. Kita hanya ingin keluar sebentar dari rutinitas, berjalan lebih pelan, menikmati udara segar, dan memberi waktu untuk diri sendiri.
Salah satu tempat di Lombok yang cocok untuk pengalaman seperti itu adalah Tetebatu.

Tetebatu adalah Desa Wisata asri yang terletak di kaki selatan Gunung Rinjani, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat berada di Lombok Timur, Tetebatu menawarkan suasana pedesaan yang dekat dengan alam dan kehidupan masyarakat lokal. Hamparan persawahan, air terjun, kawasan hutan, kerajinan bambu, hingga kuliner tradisional membuat Tetebatu menarik untuk dijelajahi dengan konsep slow travel.
Kali ini, kami mencoba menikmati seharian di Tetebatu dengan perjalanan yang menggabungkan alam, aktivitas ringan, kreativitas, kuliner lokal, dan pengalaman mengenal kehidupan masyarakat sekitar.
Perjalanan Menuju Tetebatu
Perjalanan kami dimulai dari Kopang, Lombok Tengah. Dari Kopang, perjalanan menuju Tetebatu membutuhkan waktu sekitar 40 menit, Bagi wisatawan yang berangkat dari Praya, waktu tempuh menuju Tetebatu sekitar 1 jam, sedangkan dari Kuta Mandalika sekitar 1,5 jam. Jika dari Mataram, perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1,5–2 jam, tergantung kondisi perjalanan.
Semakin mendekati Tetebatu, suasana perjalanan mulai berubah. Pemandangan perkotaan perlahan berganti menjadi suasana pedesaan dan area hijau. Setibanya di Tetebatu, kami langsung memulai perjalanan menuju destinasi pertama, yaitu Air Terjun Sarang Walet.
Air Terjun Sarang Walet: Trekking Singkat dengan Jalur yang Menarik

Air Terjun Sarang Walet menjadi destinasi pertama dalam perjalanan kami menjelajahi Tetebatu. Tempat ini cocok menjadi awal perjalanan karena trekking menuju air terjunnya relatif singkat.
Untuk masuk ke kawasan Air Terjun Sarang Walet pengunjung dikenakan biaya sekitar Rp10.000 per orang. Dari area masuk, perjalanan menuju air terjun hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Meski jaraknya cukup dekat, pengunjung tetap perlu berhati-hati karena terdapat beberapa anak tangga dan bagian jalur yang cukup licin.

Salah satu bagian yang membuat perjalanan menuju Air Terjun Sarang Walet menarik adalah jembatan kayu yang kami lewati. Setelah melewati jembatan, suasananya semakin terasa seperti sedang memasuki goa. sebelum akhirnya sampai di area air terjun. Saat kami datang di hari biasa (weekday), ternyata kawasan ini cukup ramai. Melihat kondisi tersebut, saya jadi penasaran, bakalan seramai apa suasananya saat weekend.
Air Terjun Sarang Walet memang tidak terlalu besar, tetapi justru perjalanan menuju air terjunnya yang membuat pengalaman ini menarik. Mulai dari melewati tangga hingga menyusuri jalur dan bagian yang sedikit licin, semuanya menjadi bagian dari perjalanan. Meskipun singkat, suasana alam di sepanjang jalan membuat perjalanan menuju air terjun terasa lebih berkesan.
Tips Berkunjung ke Air Terjun Sarang Walet
Kalau kamu ingin datang ke sini, gunakan alas kaki yang nyaman dan tidak mudah licin.
Saya lebih menyarankan menggunakan sandal untuk aktivitas outdoor, karena nantinya ada bagian perjalanan yang melewati jalur berair. Jika menggunakan sepatu, kamu mungkin perlu melepasnya ketika melewati bagian tersebut.
Jadi, jangan hanya mempertimbangkan penampilan ketika memilih alas kaki. Pastikan juga nyaman digunakan untuk trekking dan terkena air.
Menyegarkan Diri di Kolam Alam
Setelah menikmati Air Terjun Sarang Walet, perjalanan kami lanjut di sekitar kawasan tersebut terdapat kolam alam yang menjadi tempat yang cocok untuk berhenti sejenak. Airnya terasa sangat segar, apalagi setelah berjalan dan trekking sebelumnya. Yang membuat tempat ini semakin menarik adalah pemandangan persawahan yang ada di sekitarnya.

Di sini, rasanya tidak perlu melakukan banyak hal. Cukup duduk, bermain air, menikmati udara sekitar, atau sekadar melihat hamparan sawah di depan mata. Kalau kamu sedang mencari pengalaman healing di Tetebatu, momen sederhana seperti ini justru bisa menjadi salah satu bagian yang paling berkesan.
Mampir ke Ukeng Bamboo: Mengenal Kerajinan Bambu Tetebatu
Setelah menikmati kolam alam, kami melanjutkan perjalanan dengan mampir ke Ukeng Bamboo. Tempat ini menjadi salah satu pemberhentian yang menarik karena menawarkan pengalaman berbeda dari destinasi alam yang sebelumnya kami kunjungi.
Di Ukeng Bamboo, kamu bisa melihat berbagai kerajinan yang dibuat menggunakan bahan bambu. Tidak hanya melihat hasil akhirnya, pengunjung juga bisa mengikuti open class untuk mengenal dan mencoba proses pembuatan kerajinan bambu secara langsung.
Bagi saya, aktivitas seperti ini membuat perjalanan di Tetebatu terasa lebih lengkap. Setelah menikmati alam melalui air terjun dan kolam alam, kami kemudian diajak mengenal sisi lain dari kehidupan lokal melalui kreativitas dan kerajinan tangan. Berbagai anyaman bambu juga bisa ditemukan di sini. Kalau ingin membawa pulang oleh-oleh, tersedia berbagai souvenir berbahan bambu yang bisa menjadi pilihan.

Menurut saya, membeli kerajinan lokal seperti ini juga memberikan pengalaman yang berbeda. Oleh-oleh yang dibawa pulang bukan hanya benda, tetapi juga menjadi pengingat dari perjalanan dan cerita di balik tempat yang kita kunjungi.
Buat kamu yang menyukai aktivitas kreatif atau ingin mencoba pengalaman yang lebih interaktif selama liburan, open class di Ukeng Bamboo bisa menjadi salah satu aktivitas yang menarik untuk dimasukkan ke dalam itinerary slow travel di Tetebatu. Setelah mengenal kerajinan bambu dan melihat berbagai hasil anyaman, perjalanan kami kemudian dilanjutkan menuju Rice Field Tetebatu.
Rice Field Tetebatu: Berjalan di Tengah Persawahan
Area persawahan menjadi salah satu daya tarik yang membuat Tetebatu terasa berbeda. Sesampainya di rice field, hamparan sawah langsung menjadi pemandangan yang menemani perjalanan kami. Namun, perjalanan di sini bukan hanya tentang menikmati pemandangan atau mencari spot foto. Dengan didampingi guide, kamu juga bisa mendapatkan penjelasan mengenai persawahan dan aktivitas pertanian yang dilakukan masyarakat setempat.

Justru di sinilah konsep slow travel terasa. Kita tidak hanya datang, mengambil foto, lalu pergi. Kita memberikan waktu untuk berjalan, melihat sekitar, dan mendengarkan cerita tentang tempat yang sedang dikunjungi. Menurut saya, pengalaman ini membuat perjalanan terasa lebih bermakna. Kita tidak hanya melihat sawah sebagai lanskap yang indah, tetapi juga memahami bahwa area tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat lokal. Di perjalanan ini, kami cukup banyak berjalan kaki dan cuaca mulai terasa lebih terik.
pastikan kamu menggunakan perlindungan seperti sunscreen, topi, dan kacamata, serta membawa air minum agar tetap nyaman selama perjalanan.
Air Terjun Durian Indah
Setelah menyusuri area persawahan, perjalanan kami dilanjutkan menuju Air Terjun Durian Indah. Destinasi ini bisa menjadi pilihan berikutnya dalam rangkaian eksplorasi alam Tetebatu. Perjalanan dari satu tempat ke tempat lain membuat itinerary Tetebatu terasa cukup beragam. Dalam satu perjalanan, kita bisa menikmati air terjun, berjalan di area persawahan, kemudian melanjutkan eksplorasi menuju kawasan hutan.

Setelah dari Air Terjun Durian Indah, perjalanan kami kemudian berlanjut menuju Tetebatu Monkey Forest
Tetebatu Monkey Forest: Bertemu Monyet di Tengah Hutan
Tetebatu Monkey Forest menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi kamu yang ingin melihat kehidupan satwa di kawasan hutan. Tetebatu Monkey Forest merupakan kawasan hutan alami di Lombok Timur yang menjadi habitat berbagai jenis primata, termasuk lutung hitam (dusky leaf monkey) dan kera abu-abu. Kawasan ini menawarkan pengalaman menikmati suasana hutan yang masih asri sekaligus mengamati satwa yang hidup di habitat alaminya.
Berdasarkan pengalaman kami, siang hari menjadi waktu yang menarik untuk berkunjung karena monyet-monyet mulai banyak terlihat dan aktif mencari makanan. Berbeda dengan pengalaman di beberapa kawasan Monkey Forest di Bali, monyet-monyet di Tetebatu yang kami temui cenderung tidak mengganggu pengunjung, bahkan ketika kami sedang makan. Mereka lebih banyak beraktivitas di sekitar hutan tanpa terlalu mendekati pengunjung.

Pengalaman melihat monyet di Tetebatu juga terasa berbeda. Suasananya terasa lebih dekat dengan lingkungan hutan dan aktivitas satwa. Salah satu hal yang menarik perhatian kami adalah perubahan warna bulu monyet ketika bertambah usia. Saat masih kecil, warnanya terlihat lebih terang atau cenderung jingga kecokelatan. Ketika dewasa, warnanya menjadi lebih gelap.
Meski menarik untuk diamati, tetap penting untuk menjaga jarak dan tidak mengganggu satwa. Jangan sembarangan memberikan makanan atau mencoba menyentuh mereka. Biarkan monyet tetap beraktivitas di habitatnya, sementara kita menikmati pengalaman dari jarak yang aman.
Makan Siang di Warung Zaeni
Setelah cukup lama berjalan dan mengeksplorasi Tetebatu, waktunya mengisi energi. Kami melanjutkan perjalanan menuju Warung Zaeni untuk makan siang.

Di sini, kamu bisa menikmati makanan tradisional dengan cita rasa lokal. Setelah seharian berjalan, makanan terasa semakin nikmat karena menjadi waktu untuk beristirahat sekaligus mengisi kembali tenaga. Namun, pengalaman di Warung Zaeni tidak hanya tentang makan. Kalau ingin mendapatkan pengalaman yang lebih interaktif, kamu juga bisa mengikuti cooking class dengan melakukan reservasi terlebih dahulu.
Cooking Class: Dari Kebun hingga Meja Makan
Yang menarik dari cooking class ini adalah prosesnya tidak langsung dimulai dari memasak. Kamu bisa diajak mencari dan mengenal bahan-bahan yang digunakan dari kebun. Nantinya, guide akan menjelaskan bahan-bahan tersebut sebelum kamu mulai mengolahnya. Setelah itu, kamu bisa memasak sendiri makanan yang sudah disiapkan.
Jadi, pengalaman yang didapat bukan sekadar makan makanan tradisional, tetapi juga mengenal bahan, proses, dan cerita di balik makanan tersebut. Menurut saya, aktivitas seperti ini sangat cocok dengan konsep slow travel dan wellness tourism di Tetebatu karena kita benar-benar terlibat dalam pengalaman, bukan hanya menjadi pengunjung.
Menginap di Harmoni Homestay

Kalau satu hari di Tetebatu masih terasa kurang, kamu bisa mempertimbangkan untuk menginap agar perjalanan terasa lebih santai. Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah Harmoni Homestay, terutama jika kamu datang bersama rombongan.
Tempat ini menyediakan beberapa kamar sehingga cukup cocok untuk kelompok. Selain itu, terdapat kolam renang dan pemandangan yang langsung mengarah ke area persawahan. Suasananya juga cukup unik karena memiliki nuansa seperti bungalow dengan view sawah. Setelah seharian berjalan, trekking, menikmati air terjun, menyusuri persawahan, melihat satwa, hingga mengikuti aktivitas lokal, rasanya menyenangkan untuk menutup hari dengan beristirahat sambil menikmati pemandangan hijau.
Kenapa Slow Travel di Tetebatu Layak Dicoba?
Tetebatu menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar pemandangan. Dalam satu perjalanan, kamu bisa menikmati air terjun, menyegarkan diri di kolam alami, mengenal kerajinan bambu, berjalan di tengah persawahan, melihat kehidupan satwa, hingga menikmati makanan tradisional dan belajar memasak.
Semua pengalaman tersebut mempertemukan kita dengan sisi alam dan kehidupan lokal Tetebatu. Mungkin itulah yang membuat slow travel di Lombok terasa berbeda. Kita tidak hanya datang untuk melihat tempat baru, tetapi juga memberikan waktu untuk memahami, merasakan, dan menikmati perjalanan. Karena terkadang, untuk merasa lebih tenang. Kita hanya perlu berjalan lebih pelan.
Tertarik Menjelajahi Tetebatu?
Ingin menjelajahi Tetebatu tanpa repot mengatur perjalanan sendiri? Kami menyediakan layanan perjalanan yang membantu kamu menikmati Tetebatu dengan lebih mudah, nyaman, dan sesuai dengan minatmu.
